BREAKING: Menkes Sebut Kematian Ibu dan Anak di Jabar Tertinggi
RAJAMEDIA.CO – Jakarta – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan Jawa Barat tercatat sebagai salah satu provinsi dengan angka kematian ibu dan anak tertinggi di Indonesia.
Ironisnya, kasus tersebut terjadi di rumah sakit yang masuk kategori akreditasi tertinggi.
Jabar Jadi Perhatian Serius
Budi menyampaikan hal tersebut dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI, Senin (14/9/2026).
Menurutnya, posisi Indonesia dalam persoalan kematian ibu dan anak di kawasan ASEAN masih memprihatinkan. Setelah dilakukan pemetaan, Jawa Barat menjadi salah satu wilayah dengan angka yang paling tinggi.
“Kita di ASEAN itu termasuk yang jelek posisinya. Sesudah kita lihat di Jawa Barat, Jawa Barat itu termasuk yang paling tinggi angkanya,” ujar Budi.
Ia menyebut terdapat tiga kota dan tiga kabupaten di Jawa Barat yang memiliki tingkat kematian ibu dan anak tinggi. Namun, Budi tidak merinci wilayah tersebut.
Terjadi di Rumah Sakit Akreditasi Tinggi
Budi menyoroti fakta bahwa kematian terjadi saat pasien mendapatkan penanganan di rumah sakit.
Padahal, rumah sakit yang dimaksud merupakan fasilitas kesehatan dengan akreditasi paripurna atau kategori tertinggi.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa status akreditasi belum cukup jika tidak diikuti dengan penerapan standar keselamatan dan kebersihan secara konsisten.
Infeksi Jadi Salah Satu Penyebab
Salah satu persoalan yang ditemukan Kemenkes adalah tingginya kasus infeksi di rumah sakit.
“Kita lihat rumah sakitnya kenapa meninggal? Karena banyak infeksi. Jadi cara mereka menata apa kebersihan rumah sakitnya itu enggak bagus.”
Temuan tersebut menjadi perhatian karena infeksi dapat meningkatkan risiko komplikasi pada pasien ibu dan bayi yang membutuhkan penanganan medis intensif.
Rumah Sakit Diberi Waktu Perbaikan
Kemenkes, kata Budi, akan memberikan perhatian khusus kepada rumah sakit yang memiliki catatan kematian ibu dan bayi tinggi.
Rumah sakit tersebut diberikan waktu satu tahun untuk melakukan perbaikan kualitas layanan.
Perbaikan tidak hanya akan dilihat dari kelengkapan fasilitas, tetapi juga melalui indikator kesehatan yang lebih terukur.
Antimicrobial Resistance Jadi Indikator
Salah satu indikator yang akan diperkuat adalah antimicrobial resistance (AMR) atau resistensi antimikroba.
Budi menegaskan indikator tersebut akan diukur secara nyata sehingga rumah sakit dapat dievaluasi berdasarkan kinerja dan hasil layanan.
“Kita ukurnya benar-benar seperti itu, dan ini bisa dirubah.”
Kemenkes berharap evaluasi berbasis indikator tersebut mampu mendorong rumah sakit memperbaiki kualitas layanan sekaligus menekan angka kematian ibu dan anak.
RAJA MEDIA – Cepat, Tegas, Terpercaya.![]()
Pamanggih 1 hari yang lalu
Peristiwa | 5 hari yang lalu
Pamanggih | 4 hari yang lalu
Bale Maung | 2 hari yang lalu
Peristiwa | 5 hari yang lalu
Bale Maung | 3 hari yang lalu
Nusantara | 5 hari yang lalu
Peristiwa | 1 hari yang lalu
Ekobis | 3 hari yang lalu
Peristiwa | 23 jam yang lalu




