Politik

Bale Maung

Bale Dewan

Hukum

Ekbis

Bale Jabar

Peristiwa

Galeri

Olahraga

Opini

Nusantara

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Otomotif

Indeks

Kota Menjelang Mudik

Oleh: Dr. Tantan Hermansah
Selasa, 18 April 2023 | 23:48 WIB
Share:
Ilustrasi pemudik. (Foto: Internet)
Ilustrasi pemudik. (Foto: Internet)

RMJABAR.COM - Opini - Bagi masyarakat Indonesia dan juga mungkin sebagian masyarakat Asia Tenggara, Hari Lebaran dan mudik adalah masa di mana banyak orang harus menyambutnya secara spesial.

Pemerintah memprediksi bahwa jumlah pemudik tahun ini bisa mencapai 123 jutaan orang.

Karena bagi masyarakat Indonesia, Lebaran bukan hanya momen yang kemudian memiliki nilai kultural dan historis, tetapi juga lebaran adalah momentum sebagian masyarakat Indonesia kembali mengikatkan diri dengan ruang spiritual yang bernama leluhur dan nenek moyang.

Hal ini dibuktikan dengan kegiatan masyarakat menjelang lebaran, di mana banyak keluarga yang khusus menyiapkan diri untuk bersilaturahmi dengan sanak saudara dan handai taulan, juga melakukan ziarah ke makam-makam leluhurnya.

Tidak terkecuali masyarakat kota. Menjelang lebaran masyarakat kota bisa jadi jauh lebih sibuk daripada masyarakat muslim di pedesaan.

Mereka yang memelihara tradisi saling berkirim makanan, di desa atau di kota sama-sama sibuk. Mulai dari bagaimana menata dan mengelola jumlah dan jenis makanan yang akan dijadikan medium silaturahmi tersebut, dengan beragam modus dan prosedur serta ciri budaya masing-masing.

Masyarakat kemudian menjelang lebaran menyibukkan diri untuk sedaya upaya memenuhi tuntutan budaya tersebut.

Fase Peristiwa Mudik

Jika kita bedakan kota menjelang mudik bisa dibagi menjadi beberapa fase. Pertama, adalah fase persiapan di mana masyarakat kota pada fase ini mengidentifikasi kebutuhan mudik mulai dari pergi sejauh apa, ke mana, membawa apa saja, dan sebagainya.

Termasuk di dalamnya menyiapkan angpao lebaran untuk dibagi-bagi, sampai kepada persoalan berapa banyak busana yang akan dibawa dan dikenakan nanti.

Tentu saja masa persiapan ini akan menghasilkan ekspresi yang berbeda-beda dari setiap strata sosial masyarakat.

Semakin dia memiliki sumber daya yang besar, maka persiapan menjelang mudik itu jauh lebih kompleks ketimbang mereka yang berada pada strata ekonomi di bawahnya.

Sebab mereka yang sumber dayanya besar dan perginya lebih jauh pasti sudah mulai melengkapi ragam kebutuhan dengan jauh lebih variatif ketimbang mereka yang di bawah.

Kalau mereka yang berada pada strata atas, mungkin sebagian pergi menggunakan pesawat atau membawa kendaraan yang bagus dengan sopir yang mumpuni.

Besarnya biaya perjalanan bagi kalangan ini, bukan suatu kendala, sebab kenyamanan lebih utama.

Namun demikian, biasanya pada kalangan ini hal yang membuat lebih rumit adalah alokasi waktu yang tersedia untuk melakukan perjalanan mudik ini.

Maklum karena sederet kesibukan, biasanya alokasi waktu mudik hanya sebagian kecil dari kegiatan yang harus dia lalui selama masa-masa lebaran.

Berbeda dengan kalangan bawah, masa persiapan untuk mudik bisa jadi jauh lebih sederhana. Tidak jarang kendaraan yang disiapkan untuk mudik hanya sepeda motor atau kendaraan umum seperti angkutan kota yang di sewa atau bahkan ada yang menggunakan bajaj serta transportasi publik biasa.

Jika terpaksa demi penghematan biaya perjalanan, mereka menggunakan kendaraan pribadi seperti motor, persiapan segala sesuatunya seperti kelayakan dan kelayakan kendaraan diperhatikan.  Karena tidak jarang mereka harus menempuh perjalanan yang cukup jauh.

Terdapat sejumlah alasan mengapa mereka membawa kendaraan roda dua itu dari kota.

Biasanya pilihan tersebut dilakukan untuk mempermudah mereka ketika sudah sampai di kampung halaman untuk silaturahmi ke tetangga; karena biasanya mereka hanya memiliki sepeda motor tersebut sebagai sarana transportasi.

Saat ini, untuk melakukan perjalanan mudik menggunakan transportasi publik jauh lebih baik dibanding di masa lalu. Pemerintah mengawasi cukup ketat berbagai variable bepergian, seperti harga tiket, kelayakan kendaraan sampai pengelolaan perjalanan.

Meski bukan berarti itu jaminan paling tidak saat ini para pengguna kendaraan umum atau transportasi publik jauh lebih nyaman.
 
Fase berikutnya adalah pelaksanaan mudik itu sendiri. Biasanya secara umum masyarakat mulai melakukan mudik pada hari dan waktu yang sama dalam arti kebanyakan.

Kebanyakan mereka menempuh perjalanan pada hari terakhir di hari kerja pada bulan Ramadan.  

Namun saat ini jika kita memantau pemberitaan, banyak pemudik sudah mulai melakukan perjalanan jauh-jauh hari. Maka bisa jadi apa yang dulu biasa terjadi dengan ledakan pemudik mungkin tidak akan separah sebelumnya.

Maka kota enjelang mudik itu pasti ada dalam suasana kesibukan yang memuncak, karena warga kota sedang sibuk-sibuknya untuk melakukan perjalanan menuju kampung halamannya masing-masing.

Akibatnya jika perjalanan mudik ini sudah mulai dilakukan oleh warga kota, akan terdapat banyak sekali wilayah di perkotaan yang mengalami penurunan jumlah penghuni meski ini bersifat sementara.

Karena hanya terjadi menjelang dan sesudah lebaran saja.
Namun suasana kota yang lengang jelas berbeda signifikan dari keadaan sebelumnya.

Hal ini bisa dirasakan di jalan yang biasanya padat bahkan macet, menjadi sedikit longgar.

Akan tetapi, kota menjelang mudik juga perlu diwaspadai dengan munculnya ragam tindakan kriminalitas. Sebab dengan lengganggnya orang ini maka sebagian orang memanfaatkan suasana kota untuk melakukan tindakan kriminal seperti pencurian atau pembobolan rumah-rumah dan sebagainya.

Maka dari itu aparat keamanan jauh-jauh hari sudah mengimbau agar warga yang pasti melakukan mudik untuk memberitahu agar semua pihak menyadari situasi ini, sehingga bisa meminimalisir terjadinya korban dari ragam tindak kriminal tersebut.

Penutup

Sebagai peristiwa sosial, kota menjelang mudik merupakan fenomena yang melibatkan banyak pihak untuk mengelolanya.

Mudik sebagai aktivitas positif perlu dikelola agar terjaga kenyamanannya, baik ketika pemudik itu menuju kampung halaman, maupun ketika pulang kembali.

*Penulis adalah Pengajar Sosiologi Perkotaan, Ketua Prodi Magister KPI UIN Jakarta.rajamedia

Komentar: