Pulitik Jero

Bale Maung

Bale Dewan

Hukum

Ekobis

Bale Jabar

Peristiwa

Galeri

Olahraga

Pamanggih

Nusantara

Mancanagara

Kaamanan

Piwulang

Kesehatan

Gaya Hirup

Otomotif

Indeks

Membaca Isra Mi‘raj di Tengah Bencana dan Krisis Kemanusiaan

Oleh: Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si.
Jumat, 16 Januari 2026 | 17:31 WIB
Foto: Ilustrasi - Repro -
Foto: Ilustrasi - Repro -

RAJAMEDIA.CO - ISRA Mi‘raj sering dipahami hanya sebagai peristiwa mukjizat. Padahal secara teologis dan sosial, ia adalah momentum pemurnian sandaran hidup Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini terjadi saat penopang duniawi Nabi dicabut satu per satu.


Wafatnya Khadijah dan Abu Thalib membuat Nabi benar-benar sendiri secara manusiawi. Tidak ada lagi tempat bergantung selain Allah. Dalam kondisi seperti itulah tauhid Nabi dimurnikan. Sandaran kepada makhluk diganti dengan sandaran kepada Sang Khalik. Dari sinilah kekuatan profetik lahir. Isra Mi‘raj menjadi fondasi kepemimpinan spiritual yang mengubah sejarah.


Al-Qur’an menegaskan bahwa iman selalu diuji. Ujian bukan untuk melemahkan, tetapi untuk memurnikan. Ketika sandaran kepada manusia runtuh, sandaran kepada Allah ditegakkan. Tauhid tidak lagi sekadar konsep, tetapi pengalaman hidup. Nabi menjadi manusia yang sepenuhnya bertawakal. Tidak ada lagi yang diandalkan selain pertolongan Tuhan. Dari kondisi inilah lahir keberanian moral. Keberanian untuk melawan arus ketidakadilan. Keberanian untuk membela yang lemah.


Isra Mi‘raj datang sebagai peneguhan langsung dari langit. Di sana Nabi menerima perintah shalat. Shalat bukan hanya ritual, tetapi energi peradaban. Ia melatih kesadaran, disiplin, dan keberanian. Shalat membentuk manusia yang tegak di hadapan Tuhan. Dari situ manusia berdiri tegak di hadapan tirani. Spirit langit diturunkan ke bumi. Ibadah melahirkan daya juang sosial. Dari sajadah lahir keberanian melawan ketidakadilan: politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Inilah yang kemudian diwujudkan melalui visi kota madinah.


Setelah sandaran dunia dicabut dan sandaran ilahi ditegakkan, Nabi tampil semakin kuat. Musuh yang dihadapi bukan sekadar Quraisy. Musuh itu adalah kebodohan yang membekukan akal. Musuh itu adalah rasialisme dan kesenjangan sosial yang merusak persaudaraan. Musuh itu adalah ketimpangan relasi kuasa. Relasi kuasa yang melanggengkan dominasi elit atas rakyat. Nabi melawan struktur, bukan hanya individu. Islam hadir untuk membebaskan manusia dari sistem yang menindas. Inilah inti risalah profetik.


Problem kemanusiaan di Makkah saat itu pada hakikatnya adalah perebutan pengaruh demi survival segelintir elit dan oligarki. Kekuasaan dijadikan alat mempertahankan dominasi, bukan melayani rakyat. Sumber daya dikuasai oleh sedikit orang, sementara mayoritas hanya menjadi penonton. Sebagaimana hari ini di Indonesia, sekitar lima puluh keluarga superkaya menguasai porsi terbesar kekayaan nasional. Akses modal dan kredit lebih banyak mengalir ke korporasi milik segelintir oligarki. Sementara usaha rakyat kecil dan UMKM justru dipersulit. Ketimpangan ini bukan kebetulan, tetapi hasil dari sistem. Sistem yang dirancang untuk melanggengkan privilese. Inilah wajah kezaliman struktural yang dihadapi umat hari ini.


Di sinilah Islam hadir bukan sekadar sebagai agama ibadah, tetapi sebagai agama pembebasan. Tauhid membebaskan manusia dari menyembah kekuasaan, uang, dan elit. Rasulullah ﷺ mengajarkan keberanian berkata benar di hadapan penguasa dan kelompok elit yang zalim. Kepemimpinan profetik bukan soal menguasai, tetapi membela. Bukan memperkaya segelintir orang, tetapi memuliakan rakyat banyak. Islam memihak yang lemah dan terpinggirkan. Ia menolak sistem yang menumpuk kekayaan di tangan minoritas. Ia menuntut keadilan distribusi dan keberpihakan kebijakan.


Aksi strategis pertama Islam adalah revolusi kesadaran. Umat harus dibebaskan dari kebodohan struktural. Masjid, kampus, dan pesantren menjadi pusat literasi dan nalar publik. Dakwah tidak cukup mengajarkan ritual, tetapi juga kesadaran sosial. Umat didorong melek data, melek ekonomi, dan melek politik. Tanpa kesadaran, rakyat mudah dikendalikan elit. Kesadaran adalah senjata pertama pembebasan. Dari sini lahir keberanian berpikir. Dari sini lahir keberanian bersuara.


Aksi strategis kedua adalah keadilan ekonomi struktural. Islam tidak berhenti pada sedekah, tetapi menata sistem distribusi. Zakat, infak, dan wakaf harus dikelola produktif. BMT, koperasi, dan ekonomi umat harus diperkuat. Kebijakan publik harus berpihak pada UMKM, petani, dan nelayan. Kredit tidak boleh hanya mengalir ke korporasi oligarki. Negara harus hadir sebagai pelindung ekonomi rakyat. Tanpa keadilan ekonomi, keadilan sosial hanya slogan.


Aksi strategis ketiga adalah etika kekuasaan dan kontrol publik. Kekuasaan adalah amanah, bukan alat menindas. Ulama, akademisi, dan aktivis harus menjadi kekuatan moral. Dakwah tidak boleh jinak di hadapan penguasa zalim. Umat harus kritis dan partisipatif. Islam mengajarkan amar makruf nahi mungkar secara institusional. Kontrol publik adalah bagian dari iman. Dari sinilah lahir politik bermoral. Bukan politik transaksional.


Aksi strategis keempat adalah solidaritas sosial terorganisir. Islam membangun umat sebagai komunitas, bukan individu terpisah. Masjid menjadi pusat pelayanan sosial. Dari masjid lahir posko bencana, dapur umum, dan sekolah rakyat. Respons bencana harus terstruktur, bukan reaktif. Dari bantuan darurat menuju pemberdayaan jangka panjang. Solidaritas bukan sekadar empati, tetapi sistem. Dari sinilah lahir kemandirian umat.


Aksi strategis kelima adalah hijrah mental dan kultural. Hijrah hari ini bukan hanya pindah tempat, tetapi pindah sikap. Dari pasrah menuju berdaya. Dari mengeluh menuju bergerak. Dari takut menuju berani. Dari tergantung menuju mandiri. Islam mendidik umat agar bangkit secara mental. Bangkit dengan iman dan kerja keras. Bangkit dengan solidaritas dan disiplin. Inilah makna hijrah sepanjang zaman.


Pesan hijrah mental yang diawali dengan peristiwa Isra' mi'raj ini sangat relevan bagi para penyintas banjir, termasuk di berbagai wilayah Sumatera. Banjir bukan hanya peristiwa alam, tetapi juga ujian iman dan struktur sosial. Ujian menegakkan amar ma'ruf nahi muknar. Banyak orang kehilangan rumah, harta, dan rasa aman. Namun dalam perspektif tauhid, tidak ada “kehilangan” yang mutlak. Semua yang kita kumpulkan sejatinya adalah amanat Allah. Semua yang kita miliki hanyalah titipan. Ketika titipan itu diambil kembali oleh Pemiliknya, iman diuji untuk tetap tegak. Dari kesadaran inilah lahir ketenangan batin. Dan dari ketenangan batin lahir keberanian untuk bangkit.


Sebagaimana Nabi Muhammad SAW “kehilangan” Khadijah dan Abu Thalib, para penyintas hari ini pun merasa kehilangan banyak hal yang dicintai. Nabi kehilangan penopang emosional dan sosial, tetapi justru dari situlah kekuatannya dimurnikan. Tidak ada lagi yang diandalkan selain pertolongan Allah. Demikian pula para korban banjir yang kehilangan rumah, harta, dan rasa aman. Dalam perspektif tauhid, itu bukan kehancuran, melainkan pemurnian sandaran. Semua yang dikumpulkan manusia sejatinya adalah amanat Allah. Ketika amanat itu kembali kepada Pemiliknya, iman diuji untuk tetap tegak. Dari sini lahir kekuatan baru untuk bangkit. Bangkit dengan jiwa yang lebih merdeka dan sandaran yang lebih lurus kepada Tuhan.


Namun kebangkitan tidak boleh hanya dibebankan kepada korban dan rakyat kecil. Negara dan para pemegang kuasa harus bertanggung jawab secara struktural. Tidak adil jika rakyat diminta sabar, sementara kekayaan terus menumpuk di tangan minoritas elit. Tidak adil jika kredit dan insentif negara mengalir deras ke korporasi oligarki, tetapi UMKM dan petani dibiarkan berjuang sendiri. Tidak adil jika bencana menjadi ladang proyek, bukan ladang empati. Islam menolak logika pembangunan yang mengorbankan manusia. Islam menuntut distribusi yang adil dan keberpihakan kebijakan. Di sinilah jihad sosial menemukan relevansinya hari ini. Jihad menegakan teo-ekologi yang menjunjung tinggi harmoni masyarakat dengan alam, bumi tempat kita tinggal.


Dari Isra Mi‘raj kita belajar bahwa kekuatan lahir dari tauhid. Dari Hijrah kita belajar bahwa iman harus melahirkan perubahan sosial. Dari para penyintas banjir kita belajar tentang keteguhan dan harapan. Dari ketimpangan kita belajar bahwa kezaliman harus dilawan. Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa iman bukan untuk melarikan diri dari dunia. Iman justru untuk mengubah dunia. Mengubah struktur yang menindas. Mengubah mentalitas yang pasrah. Mengubah ketidakadilan menjadi peradaban. Inilah makna Isra Mi‘raj sebagai fondasi spiritual perlawanan terhadap ketidakadilan. Wallahu a'lam.


Penulis: Dekan FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA)rajamedia

Komentar:
BERITA LAINNYA
Foto Ilustrasi: Dok Gemini -
Tangsel Sudah Darurat Sampah
Jumat, 09 Januari 2026
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat menghadiri Open House Natal Maruarar Sirait - Istimewa -
Open House yang Dipelintir
Jumat, 02 Januari 2026
Foto Ilustrasi: Dok Gemini -
Tangsel Sudah Darurat Sampah
Jumat, 09 Januari 2026
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat menghadiri Open House Natal Maruarar Sirait - Istimewa -
Open House yang Dipelintir
Jumat, 02 Januari 2026