Pulitik Jero

Bale Maung

Bale Dewan

Hukum

Ekobis

Bale Jabar

Peristiwa

Galeri

Olahraga

Pamanggih

Nusantara

Mancanagara

Kaamanan

Piwulang

Kesehatan

Gaya Hirup

Otomotif

Indeks

Jalankan Amanat Konstitusi! Pemerintah Indonesia Diminta Bersikap Tegas Dukung Iran

Laporan: Zulhidayat Siregar
Selasa, 10 Maret 2026 | 09:43 WIB
Massa FPN membentangkan spanduk besar bertuliskan "Dukung Iran Lawan Israel-AS" dalam aksi di depan kantor Kedubes Amerika Serikat di Jakarta, kemarin.
Massa FPN membentangkan spanduk besar bertuliskan "Dukung Iran Lawan Israel-AS" dalam aksi di depan kantor Kedubes Amerika Serikat di Jakarta, kemarin.

RAJAMEDIA.CO - Jakarta - Selain menyatakan dukungan kepada Iran untuk melawan Zionisme Israel dan Amerika Serikat dalam aksi yang digelar serentak di sejumlah kota di Indonesia kemarin, massa Free Palestine Network (FPN) juga menuntut Pemerintah Indonesia untuk memberikan sikap tegas terhadap agresi militer yang dilakukan kedua negara itu terhadap negeri para Mullah tersebut.


Sekjen FPN, Furqan AMC, menegaskan sebagai bangsa yang pernah merasakan pahitnya kolonialisme, Indonesia harus berdiri dengan tegas bersolidaritas dan mendukung Republik Islam Iran mempertahankan kedaulatannya. Solidaritas dan dukungan tersebut harus ditunjukkan oleh pemerintah maupun masyarakat Indonesia secara keseluruhan.


Karena itu pihaknya mendesak Pemerintah untuk mengutuk agresi militer Zionis Israel dan AS terhadap Iran yang telah membunuh pemimpin tertinggi Iran Ayatulloh Ali Khamenei dan banyak korban lainnya, serta tunjukkan dengan tegas solidaritas dan dukungan terhadap bangsa Iran yang berjuang membela kedaulatan bangsanya.

 

Amanat Konstitusi


Dalam menghadapi dinamika global terkait meningkatnya eskalasi di Timur Tengah ini, Furqan mengingatkan Indonesia harus menjalankan politik luar negeri bebas aktif sebagaimana perintah konstitusi. Untuk itu, Indonesia dituntut mandiri dan berdaulat dalam menyikapi konflik yang ada.


"Sikap kita tersebut harus segaris dengan amanat pembukaan UUD 1945 untuk menghapuskan penjajahan di muka bumi karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan," tegas Furqan.


"Politik bebas aktif jangan ditafsirkan menjadi politik oportunis tanpa ketegasan sikap membela yang tertindas. Karena garis politik luar negeri bebas aktif itu lahir dari rahim revolusi Indonesia melawan kolonialisme dan imperialisme, tambah Furqan.


Segera Gelar Konferensi Darurat Tingkat Tinggi


Sebagai salah bentuk terlibat aktif dalam menjaga ketertiban dunia sebagaimna amanat 1945, lebih jauh dia menjelaskan, Indonesia bisa mengambil kepeloporan untuk menyelenggarakan Konferensi Darurat Tingkat Tinggi di Indonesia guna menggalang solidaritas Bangsa-bangsa Asia, Afrika dan Amerika Latin.


Konferensi Darurat Tingkat Tinggi ini digelar untuk mendukung kemerdekaan Palestina dan mendukung perjuangan Republik Islam Iran membela kedaulatan bangsanya dari agresi militer Amerika Serikat dan Zionis Israel.


"Indonesia punya modal sejarah dengan kepeloporan Konferensi Asia Afrika tahun 1955 yang telah mendoronng 40 bangsa lebih merdeka. Satu-satunya bangsa yang hadir pada konferensi di Bandung tersebut yang belum merdeka adalah Palestina. Karena itu kemerdekaan Palestina adalah hutang sejarah kita semua," ungkapnya.


Keluar dari BoP


Dalam pernyataannya, Sekjen FPN juga mendesak Indonesia keluar Board of Peace (BoP). Karena lembaga internasional bentukan Presiden AS Donald Trump tersebut berpotensi melangkahi PBB dan melanggar kedaulatan Indonesia yang disubordinatkan di bawah individu Trump yang menunjuk dirinya sebagai ketua seumur hidup lembaga tersebut.


Selain itu, keikutsertaan Indonesia di BoP juga berpotensi mengaburkan komitmen Indonesia mendukung kemerdekaan Palestina. Karena tidak ada klausul tegas dalam piagam BoP yang menjamin kemerdekaan Palestina.


"BoP dikhawatirkan hanya menjadi langkah tipu muslihat Donald Trump dan (PM Israel) Netanyahu mengamankan hasil genosida di Gaza dengan mencoba mengkapitalisasi wilayah tersebut menjadi proyek properti pengusaha-pengusaha transnasional," tegasnya.


Terakhir, pihaknya meminta Indonesia membatalkan perjanjian dagang dengan Amerika Serikat. Alasannya, karena perjanjian itu berat sebelah dan berpotensi merugikan Indonesia serta beresiko mengancam kedaulatan bangsa.


Dari Tawaran Mediasi hingga Kirim Surat Duka


Sebagaimana diketahui, menyusul serangan AS-Israel yang juga kemudian dibalas oleh Iran, Pemerintah sendiri telah menyikapinya. Indonesia misalnya menyerukan seluruh pihak untuk menahan diri dan mengedepankan dialog dan diplomasi. Pihak Indonesia pun siap menjadi penengah.


Di samping itu,  Pemerintah Indonesia juga menyampaikan belasungkawa resmi atas gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei akibat serangan Amerika Serikat dan Israel lewat surat duka cita yang diserahkan Menteri Luar Negeri Sugiono kepada Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi di Jakarta.rajamedia

Komentar: