Pulitik Jero

Bale Maung

Bale Dewan

Hukum

Ekobis

Bale Jabar

Peristiwa

Galeri

Olahraga

Pamanggih

Nusantara

Mancanagara

Kaamanan

Piwulang

Kesehatan

Gaya Hirup

Otomotif

Indeks

BNPB Perkuat Kesiapsiagaan Pesisir Banten, Hadapi Ancaman Tsunami Anak Krakatau

Laporan: Raja Media Network
Kamis, 10 September 2026 | 17:47 WIB
BNPB perkuat kesiapsiagaan Pesisir Banten hadapi ancaman tsunami Anak Krakatau - RMN -
BNPB perkuat kesiapsiagaan Pesisir Banten hadapi ancaman tsunami Anak Krakatau - RMN -

RMJABAR.COM — Serang — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkuat kesiapsiagaan masyarakat di kawasan pesisir Banten menghadapi aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK). Langkah ini dilakukan melalui pendampingan pemerintah daerah sekaligus asesmen kesiapsiagaan di sejumlah wilayah yang berisiko terdampak tsunami.
 

BNPB Turun Sejak 6 September
 

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, tim Kedeputian Bidang Pencegahan BNPB telah ditugaskan sejak 6 September 2026.
 

Tim berkoordinasi dengan pemerintah daerah, memantau kondisi wilayah terdampak, sekaligus menilai kesiapan masyarakat dan sarana-prasarana kebencanaan.
 

"Assessment dilakukan untuk memastikan kesiapan pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi potensi dampak aktivitas Gunung Anak Krakatau, termasuk potensi bahaya sekunder berupa tsunami," kata Berton dalam keterangan tertulis, Kamis (10/9/2026).
 

Tiga Wilayah Jadi Fokus Asesmen
 

Assessment dilakukan di sejumlah wilayah Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, dan Kota Cilegon.
 

Penilaian mencakup sistem peringatan dini, jalur evakuasi, titik aman, SOP, kapasitas masyarakat, hingga peran relawan dalam menyebarkan informasi kebencanaan.
 

Di Kabupaten Pandeglang, asesmen dilakukan di kawasan Tanjung Lesung, Desa Sumberjaya, dan Desa Panimbangjaya.
 

Sejumlah fasilitas kesiapsiagaan telah tersedia, mulai dari rambu evakuasi, jalur menuju titik aman, sirene, hingga SOP peringatan dini tsunami.
 

Namun, BNPB masih menemukan perangkat Warning Receiver System (WRS) Gen di kawasan Tanjung Lesung yang sedang dalam proses perbaikan.
 

Serang dan Cilegon Dinilai Siap
 

Di Kabupaten Serang, asesmen dilakukan di Desa Salira, Desa Karang Suraga, dan Desa Anyar.
 

Ketiga wilayah tersebut telah memiliki sejumlah komponen kesiapsiagaan, seperti peta bahaya, rambu dan jalur evakuasi, titik aman, SOP peringatan dini, serta sirene.
 

Sementara di Kota Cilegon, asesmen dilakukan di Kelurahan Kubangsari.
 

Pemahaman masyarakat terhadap risiko tsunami dinilai cukup baik. Informasi perkembangan situasi juga masih disampaikan fasilitator kelurahan melalui grup WhatsApp.
 

Sarana Peringatan Dini Harus Dirawat
 

Berton menegaskan, keberadaan sarana kesiapsiagaan harus dibarengi pemeliharaan dan pemeriksaan secara berkala.
 

"BNPB mendorong pemerintah daerah memastikan jalur evakuasi, rambu, titik kumpul, serta sarana peringatan dini dapat dipelihara dan diperiksa secara berkala," ujarnya.
 

Menurut Berton, kesiapan peralatan harus berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas masyarakat. Dengan begitu, peringatan dini tidak berhenti sebagai informasi, tetapi dapat segera diikuti respons cepat ketika kondisi darurat terjadi.
 

Abu Vulkanik Tak Lagi Terdeteksi
 

BNPB menyebut sebaran abu vulkanik di wilayah Banten hingga Selasa (8/9) sore sudah tidak teramati. Hasil paper test juga menunjukkan tidak terdapat lagi sebaran abu di wilayah Banten.
 

Meski demikian, pemantauan tetap dilakukan karena status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga, berdasarkan informasi PVMBG hingga Selasa (8/9) pukul 18.00 WIB.
 

"Masyarakat diimbau tetap tenang, tidak panik, serta mengikuti informasi dan rekomendasi resmi dari PVMBG, BNPB, BPBD, dan pemerintah daerah," kata Berton.
 

Masker Tetap Disiapkan
 

BNPB juga meminta pemerintah daerah memastikan ketersediaan masker di gudang logistik sebagai langkah antisipasi apabila kembali terjadi sebaran abu vulkanik.
 

Aktivitas masyarakat di kawasan pesisir Banten saat ini telah kembali berjalan normal. Namun, BNPB bersama pemerintah daerah dan unsur pentaheliks tetap melakukan pemantauan dan pendampingan sesuai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
 

Kesiapsiagaan menjadi kunci. Sebab, meski kondisi abu vulkanik telah mereda, potensi bahaya sekunder seperti tsunami tetap harus diantisipasi dengan sistem peringatan dini, jalur evakuasi, peralatan yang terawat, dan masyarakat yang siap bergerak.
 

RAJA MEDIA – Cepat, Tegas, Terpercaya.rajamedia

Komentar: