Insinyur Indonesia Harus Jadi Garda Depan Disrupsi Teknologi Pertahanan
RMJABAR.COM – Cimahi – Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, Dr. Tb. Ace Hasan Syadzily, menegaskan pentingnya peran strategis insinyur Indonesia dalam memperkuat kemandirian teknologi pertahanan nasional di tengah disrupsi teknologi dan dinamika geopolitik global.
Pesan tersebut disampaikan Ace saat menjadi pembicara kunci dalam seminar Persatuan Insinyur Indonesia (PII), yang menjadi bagian dari rangkaian Conference of ASEAN Federation of Engineering Organizations (CAFEO), Senin (19/10/2026), di Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), Cimahi, Jawa Barat.
Seminar tersebut mengangkat tema “Insinyur sebagai Garda Depan Disrupsi Teknologi Pertahanan.”

Dalam paparannya, Ace menyoroti bahwa perkembangan teknologi pertahanan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis, tetapi juga berhubungan erat dengan geopolitik, ketahanan nasional, kepemimpinan nasional, serta masa depan kedaulatan bangsa.
Menurutnya, Indonesia perlu memperkuat kapasitas sumber daya manusia dan penguasaan teknologi agar mampu menghadapi perubahan lingkungan strategis global.
Kemandirian Teknologi Jadi Kunci Kedaulatan Bangsa
Ace menekankan bahwa Indonesia perlu memiliki kemampuan untuk menguasai, mengembangkan, mengintegrasikan, dan memanfaatkan teknologi secara mandiri. Penguasaan teknologi tersebut harus tetap memperhatikan aspek keamanan, etika, serta kepentingan nasional.
Menurutnya, kemandirian teknologi pertahanan merupakan bagian penting dari upaya menjaga kedaulatan bangsa di tengah persaingan global yang semakin kompleks.

Ace juga mengajak para insinyur berkemampuan tinggi, termasuk mereka yang berkarier di luar negeri, untuk berkontribusi membangun sistem pertahanan dan teknologi nasional.
“Mari memastikan kemajuan teknologi dibangun di atas kemandirian,” demikian pesan Ace.
Pesan tersebut menegaskan bahwa kemajuan teknologi perlu diiringi kemampuan bangsa untuk mengembangkan dan menggunakannya secara mandiri, bukan sekadar menjadi pengguna produk teknologi dari negara lain.
Ilham Habibie: Insinyur Harus Menjadi Inovator
Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Ilham Akbar Habibie, turut menyoroti pentingnya peran insinyur dalam menghadapi disrupsi teknologi pertahanan.
Ilham menegaskan bahwa insinyur tidak cukup hanya menghasilkan produk, tetapi juga perlu menjadi inovator dan penghubung lintas sektor.
“Negara yang menguasai dan menerapkan teknologi dengan baik, dia bisa mempertahankan dirinya dengan baik juga,” ujar Ilham.
Ilham juga menyoroti perkembangan teknologi militer modern, termasuk penggunaan pesawat nirawak atau drone yang dipadukan dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI).
Menurutnya, perkembangan tersebut menuntut kolaborasi erat antara akademisi, TNI, lembaga pemerintah, dan industri strategis nasional. Sinergi berbagai pihak menjadi penting agar Indonesia mampu mengembangkan teknologi pertahanan yang sesuai dengan kebutuhan nasional.
Kolaborasi Akademisi, Pemerintah, dan Industri Strategis
Seminar tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan keinsinyuran yang mempertemukan pemangku kepentingan dari berbagai sektor untuk membahas tantangan teknologi dan pertahanan.

Chairperson CAFEO 44 sekaligus Direktur Eksekutif PII, Santhi H. Serad, sebelumnya menjelaskan bahwa seminar teknologi pertahanan di Unjani Cimahi menjadi bagian dari rangkaian menuju penyelenggaraan CAFEO 44 di Bandung pada 20–22 Oktober 2026. Konferensi tersebut mempertemukan organisasi profesi insinyur dari negara-negara ASEAN.
Dalam kegiatan tersebut, hadir Ketua Umum PII Ilham Akbar Habibie, Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan RI Laksda TNI Sri Yanto, Rektor Unjani Prof. Agus Subagyo, serta akademisi dan pengurus PII dari berbagai daerah di Indonesia.
Gubernur Lemhannas RI Ace Hasan Syadzily didampingi Plt. Deputi Pengkajian Strategis Lemhannas RI Mayjen TNI (Mar) Ipung Purwadi dan Tenaga Profesional Lemhannas RI Dr. Dadang Solihin.
Insinyur Berperan Strategis Menghadapi Tantangan Global
Penguatan teknologi pertahanan membutuhkan lebih dari sekadar investasi peralatan. Indonesia juga memerlukan sumber daya manusia unggul, ekosistem riset yang kuat, serta kolaborasi berkelanjutan antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri.
Di tengah perubahan geopolitik dan pesatnya perkembangan teknologi, insinyur Indonesia memiliki posisi strategis untuk memperkuat kemampuan nasional dalam mengembangkan inovasi, meningkatkan daya saing industri pertahanan, dan menjaga kedaulatan negara.
Melalui seminar ini, peran insinyur kembali menjadi sorotan sebagai bagian penting dari strategi memperkuat ketahanan nasional dan membangun kemandirian teknologi Indonesia.
RAJA MEDIA – Cepat, Tegas, Terpercaya.![]()
Bale Maung | 1 minggu yang lalu
Bale Maung | 5 hari yang lalu
Bale Maung | 1 hari yang lalu
Bale Jabar | 1 minggu yang lalu
Bale Dewan | 1 hari yang lalu
Bale Jabar | 1 minggu yang lalu
Bale Maung | 6 hari yang lalu
Pulitik Jero | 1 minggu yang lalu
Pulitik Jero | 1 minggu yang lalu